Mendidik HAti

“Didiklah mereka dengan hati…” demikian diungkapkan Bu Muslimah, guru SD-nya Andrea Hirata yang tenar dengan novel Laskar Pelangi, pada acara Talkshow yang menjadi bagian dari rangkaian program Inspiring Teacher; Tebar Seribu Laptop Bagi Guru Indonesia hasil kerja sama antara Dompet Dhuafa Bandung dengan Shafco Enterprise dan Koran Pikiran Rakyat, 29 Mei 2010 di Wisma Taruna Bandung.
Potongan kalimat Ibu 57 tahun tersebut di atas mengandung arti yang mendalam dan penting dikaji pada kondisi pendidikan dewasa ini dimana para pelaku (baca: penyelenggara) pendidikan lebih mengutamakan produknya memperoleh atribut formal dan artifisial, dengan alasan tuntutan sistem, dan dapat laku di pasar tenaga kerja dibanding dengan internalisasi nilai- nilai pendidikan itu sendiri dalam pembangunan moral dan intlektual peserta didik. Terlebih jika memperhatikan kondisi makro kehidupan berbangsa ini dimana setiap hari kita menyaksikan berita tentang korupsi, pembunuhan, penyalahgunaan narkoba, markus hukum, pelanggaran hak asasi, freesex dikalangan anak muda, dan sederet penyelewengan moral lainnya, ditambah dengan kemiskinan dan pengangguran yang tak pernah terentaskan. Di sinilah arti penting dari apa yang diutarakan perempuan yang menjemput anak- anak yang terjebak hujan petir dalam novel Laskar Pelangi itu. Lantas, apa yang dimaksud dengan mendidik dengan hati? bagaimanakah mendidik dengan hati itu? Apa yang diharapkan dari pendidikan dengan hati?
Menurut UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang (1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) sehat, (4) berilmu, (5) cakap, (6) kreatif, (7) mandiri, dan (8) menjadi warga negara yang demokratis serta (9) bertanggung jawab. Saya kira kebanyakan orang akan setuju dengan isi pasal ini sebagai jawaban dari pertanyaan terakhir sebelumnya. Persoalannya kemudian adalah bagaimana bisa mencapai tujuan tersebut? Mari kita lihat bagan di bawah ini:

{Bentuk bagan tersebut merujuk pada bagan sila- sila Pancasila dengan lambangnya di dada Garuda}
Bagan tersebut menunjukan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan ini lah yang kemudian harus mewarnai tujuan- tujuan lainnya. Dari asumsi ini berarti bahwa akhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggungjawab mestilah berdasarkan konsep keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai konsekuensi, keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa harus menjadi prioritas, pertama dan utama dari seluruh upaya dalam proses pendidikan.
Keimanan adalah persoalan yang lebih banyak menyangkut hati (Qalbiyah), karena iman bertempat dan tumbuh dalam hati, yang kemudian menjadi motivasi, spirit dan kontrol atas semua tindakan dan perilaku seseorang dalam menjalani seluruh aktivitasnya. Hal ini tergambar dalam Sabda Nabi yang menyatakan bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka hendaklah ia menghormati tamunya, berbuat baik kepada tetangga dan berbicara hanya yang baik- baik saja. Oleh karenanya menumbuhkan dan meneguhkan keimanan merupakan proses penting yang harus dilakukan dalam kegiatan pendidikan di setiap levelnya. So, what should teacher do to make it realize?
Guru harus memberikan contoh
Guru hendaklah menjadi gambaran konkret dari konsep moral dan akhlaq yang tumbuh dari nilai- nilai keimanan yang didemonstrasikan kepada peserta didik dalam setiap tindakan dan kebijakan. Guru menjadi model dari karakter ideal seorang individu dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, baik di sekolah maupun di masyarakat, dan menunjukan kompetensinya sebagai seorang guru yang patut dicontoh dan dikagumi. Dengan demikian peserta didik dapat mudah mendapatkan gambaran tentang akhlak mulia seperti yang dikehendaki undang- undang.
Melakukan pembiasaan
Keimanan tidak begitu saja hadir dalam jiwa seseorang, tetapi ia perlu ditanamkan, dipupuk dan diarahkan agar menjadi motivasi, semangat dan kontrol terhadap pola tingkahlaku. Setiap manusia, tentunya juga peserta didik, memiliki potensi yang sama dalam hal keimanan. Akan tetapi keimanan yang berada dalam hati (qalb) bersifat dinamis, dalam arti bahwa ia senantias mengalami fluktuasi yang sejalan dengan pengaruh- pengaruh dari luar maupun dari dirinya sendiri. Oleh karena itu lah pembiasaan merupakan upaya untuk melakukan stabilisasi dan pelembagaan nilai- nilai keimanan dalam diri peserta didik yang diawali dari pembiasaan aksi ruhani (misalnya shalat, shaum, dzikir, baca quran dll) dan aksi jasmani.
Mengajarkan keimanan
Meskipun keimanan berada pada dimensi hati, tetapi pondasi aqli pun sangat diperlukan guna memperkokoh keimanan yang bersifat “dinamis” itu. Dalam Al Quran banyak ditemukan kalimat- kalimat yang berkaitan dengan kegiatan berpikir ( misalnya: ta’qilun, tafakur, tadzabur dll). Hal tersebut menunjukan bahwa aspek rasio berguna dalam menjelaskan banyak hal dalam banyak sisi dari keimanan. Tidak hanya itu, akal juga dapat memberi alasan yang kuat terhadap pola sikap dan tingkahlaku yang merupakan manifestasi dari iman. Misalkannya saja, akal dapat menjelaskan mengapa setiap orang harus berbuat baik kepada tetangganya, menghormati tamu dan berbicara secara baik.
Memotivasi
Konsep pendidikan dewasa ini tidak melulu kegiatan “mengisi gelas kosong”, melainkan pula melibatkan peserta didik dalam proses pendidikan. Mereka diberi kesempatan untuk berkembang secara optimal dan mengekplorasi seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya seperti tertuang dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Oleh karena itu guru harus menjadi motivator dan senantiasa menunjukan empati terhadap mereka yang sedang berupaya menemukan kepribadian dan kapasitasnya. Dengan demikian peserta didik akan merasa terdorong untuk melakukan tindakan- tindakan yang dilandasi kesadaran akan jati diri dan tanggungjawab yang desertai dengan keimanan.
Perlu ditambahkan juga bahwa doa merupakan upaya tersendiri dalam upaya membentuk peserta didik agar beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kontek ini doa merupakan pengakuan diri atas kelemahan- kelemahan konseptual dan praktek dalam mengemban profesi pendidik, juga permohonan keterlibatan Allah dalam mencapai tujuan- tujuan pendidikan, sekaligus memohon kekuatan untuk ikhlas dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Saya kurang tahu apa yang dimaksud dengan pernyataan Bu Muslimah seperti disebutkan dimuka, tetapi paling kurang ini lah yang dapat saya pahami dari urgensi pendidikan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, yang pada akhirnya bermuara pada kesalehan holistik, yang juga disepakati Pejuang Tanpa Tanda Jasa dari Blitung itu. Wallahua’lam

One Response to Mendidik HAti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: