Akhlaq First!

Dalam lima tahun terahir ini di setiap tatap muka pertama tahun ajaran baru saya selalu bertanya dua hal kepada lebih dari 1000 peserta didik yang saya temui baik di kegiatan kelas maupun di ekstra kurikuler. Siapa orang yang paling kamu sayangi? Apakah Anda pernah berbohong kepadanya?
Pertanyaan pertama 70%an menjawab orangtua, sisanya menjawab sahabat, pacar, saudara dan sebagainya. Perlu ditulis di sini, meski saya sendiri juga malu, kalau tak satupun di antara mereka yang menjawab “ guru saya, pak!”. Pertanyaan berikutnya 100% dijawab positif. Untuk meyakinkan, saya mencoba mengulangi pertanyaan kedua tersebut dalam bentuk negatif dan lebih luas. Siapakah yang tidak pernah Anda bohongi?. Serentak mereka menggelengkan kepala. Astagfirullah
Para ahli psikolog menunjukan paling kurang tiga alasan mengapa orang berbohong. Pertama, rendah diri; orang tersebut merasa memiliki kekurangan di tengah apriori lingkungan sosialnya yang tidak mau diketahui orang lain, cara menutupinya dengan berbohong. Kedua, bela diri; pada saat- saat tertentu seseorang bisa jadi terjebak dalam keadaan yang dianggap membahayakan dirinya, agar selamat ia “terpaksa” berbohong. Ketiga, usaha; agar ia memperoleh sesuatu padahal tidak layak baginya, maka ia berusaha mendapatkannya dengan berbohong.
Apapun alasannya secara umum berbohong itu tidak baik. Kebohongan itu ibarat bola salju yang membesar seiring dengan menggelindingnya bola kebohongaan itu. Semakin orang berbohong semakin sirna kepercayaan diri, semakin membahayakan diri, dan semakin malas meningkatkan dan mengembangkan kualitas dirinya. Semakin banyak orang berbohong, maka kejahatan akan semakin beragam dalam jumlah yang terus meningkat. Tepat apa yang disabdakan Nabi Muhamad bahwa berbohong merupakan dosa papan atas, al kibru al kaba’ir.
Jadi, apa yang harus dikerjakan guru di sekolah agar peserta didiknya tidak berbohong? Pertama, guru tidak boleh bohong; peribahasa “moal aya taktak ngaluhuran hulu” seringkali dijadikan dalil untuk tidak mengakui dan menghargai fakta bahwa beberapa informasi di bidang tertentu di antara peserta didik ada yang lebih mumpuni daripada gurunya sehingga guru merasa perlu “mengamankan” reputasi di dalam kelas dengan mengatakan “ I am better in this subject”, atau mengaburkan informasi tersebut sehingga peserta didik jadi merasa ragu terhadap apa yang ia peroleh dari hasil pencairannya. Contoh lain, sebaiknya guru menchek seluruh hasil pekerjaan peserta didik agar diperoleh gambaran yang akurat tentang perkembangan peserta didik. Jangan sampai hampir setiap pertemuan peserta didik diberikan tugas namun pada ahir evaluasi guru memberikan nilai kepada mereka berdasarkan “hawa nafsu”, karena berkas- berkas tugas mereka sudah lupa disimpan dimana.
Kedua, bangun kepercayaan diri peserta didik; guru harus pandai memberikan motivasi dan menunjukan kelebihan- kelebihan setiap peserta didik. Ceritakan kepada mereka bagaimana orang- orang sukses itu membangun kesuksesannya dari tahap yang paling rendah, prediksikan kelebihan yang peserta didik miliki dalam membangun kesuksesan mereka, dan jangan lupa yakinkan mereka bagaimana beruntungnya Anda bisa belajar bersama peserta didik yang akan mengisi deretan orang- orang sukses yang juga kelak menjadi cerita bagi sebagian peserta didik yang menjadi guru. Dengan begitu confidency peserta didik akan tumbuh secara baik dan terarah.
Ketiga, optimalkan potensi peserta didik; ahir- ahir ini kita dikenalkan dengan istilah multiple intelegencies. Teori- teori yang dikembangkan dalam istilah ini berlandaskan pada asumsi bahwa tidak ada orang yang bodoh karena setiap orang pasti memiliki kecerdasan pada hal- hal yang spesifik. Di sini lah pentingnya kejelian dan ketekunan seorang guru dalam memberikan educare terhadap setiap peserta didik. Dengan optimalnya potensi yang dimiliki peserta didik sudah barang tentu akan menjadi bekal dalam menghadapi berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Keempat, tanamkan keikhlasan; ikhlas itu tidak hanya berarti rela, melainkan pula berarti belajar, bekerja dan berusaha sesuai dengan norma- norma agama, profesionalisme dan proforsional. Keikhlasan akan membawa pelakunya sukses dunia dan akherat. Caranya? Contohkan, ajarkan, biasakan, dan motivasi.
Di setiap akhir tahun ajaran saya kembali bertanya kepada mereka dengan pertanyaan yang sama setahun silam itu. Jawaban mereka? Alhamdulillah

One Response to Akhlaq First!

  1. RULI says:

    PENGALAMAN YANG BAGUS UNTUK DICONTOH….SELAMAT PA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: