Islamic Base Education Concept

Surat Luqman Ayat 12 – 19
                •    
               
     •            
                   •             
 •                    •    
             •     
   ••  •   •  •    •   
       •     

Artinya:
12. Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
14. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17. Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

A. TAFSIR AYAT
Rangkaian beberapa ayat di atas berbicara tentang nasihat Luqman kepada putranya yang dimulai dari peringatan terhadap perbuatan syirik (ayat 13).
Luqman (disebut juga Luqman al-Hakim, Luqman Ahli Hikmah) yang terkenal karena nasehat-nasehatnya kepada anaknya. Ibnu Katsir berpendapat bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa’ bin Sadun . Sedangkan asal-usul Luqman, sebagian ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat di berasal dari Sudan. Dan ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim di zaman nabi Dawud.
Hikmah yang diberikan Allah kepada Luqman berarti akal dan kecerdasan. Akal dan kecerdasan ini kemudian memberikan kemampuan untuk bersyukur, memuji sang pemberi karunia, mencintai kebaikan kepada manusia dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada sang kholiq.
Imam ash Shobuni menafsirkan lâ tusyrik billâh dengan menyatakan, “Jadilah orang yang berakal; jangan mempersekutukan Allah dengan apa pun, apakah itu manusia, patung, ataupun anak.” Beliau menafsirkan inna asy-syirka lazhulm[un] ‘azhîm dengan menyatakan, “Perbuatan syirik merupakan sesuatu yang buruk dan tindak kezhaliman yang nyata. Karena itu, siapa saja yang menyerupakan antara Khalik dengan makhluk, tanpa ragu-ragu, orang tersebut bisa dipastikan masuk ke dalam golongan manusia yang paling bodoh. Sebab, perbuatan syirik menjauhkan seseorang dari akal sehat dan hikmah sehingga pantas digolongkan ke dalam sifat zalim; bahkan pantas disetarakan dengan binatang.”
Sementara itu, Ibn Abbas menafsirkan lazhulm[un] ‘azhîm sebagai dosa besar yang kelak akan mendapatkan sanksi dari Allah .
Dua ayat berikutnya (14 dan 15) menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya sebagai wujud rasa syukur atas pemeliharaan keduanya, terutama ibu. Dia telah mengandungnya sejak janin di dalam kandungan; setiap bertambah usia dan besar janin, semakin bertambah lemahlah dia dan semakin bertambah sulit pula (untuk bergerak). Demikian pula ketika melahirkan, seorang ibu dengan susah-payah mengeluarkan bayinya dari rahimnya. Setelah itu, ibu menyusui bayinya selama dua tahun. Ibn Jaza menafsirkan: Ungkapan hamalathu ummuhu wahn[an] ‘alâ wahnin wa fishâluhu fî ‘âmayni adalah untuk menjelaskan bahwa hak ibu lebih besar daripada bapak. Akan tetapi, rasa syukur kepada Allah harus di atas segalanya. Sebab, kepada-Nya- lah tempat kembali seseorang, termasuk kedua orangtuanya. Allah-lah yang memberi balasan yang baik kepada orang yang berbuat baik dan balasan yang buruk kepada orang yang berbuat buruk. Karena itu, sekalipun keduanya telah bersusah-payah memeliharamu, kalau mereka mengajakmu pada kekufuran dan perbuatan syirik, janganlah kamu mengikutinya, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Hanya saja, sekalipun demikian, engkau tetap menggauli mereka dengan baik serta senantiasa berlaku sopan dan hormat kepada mereka .
Yang harus diikuti adalah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku dengan iman (tauhid), taat, dan amal shalih. Tempat kembali semua makhluk adalah Allah. Allahlah yang membalas segala perbuatan hamba-Nya. Kemudian, di akhir ayat dijelaskan tentang keluasan dan kelengkapan ilmu Allah sehingga Dia mengetahui apa saja yang telah dilakukan hamba-Nya. Penggambaran yang demikian membangkitkan wijdan (naluri beragama) yang ada pada diri manusia.
Ayat berikutnya (16, 17, 18, dan 19) kembali mengungkapkan nasihat Luqman kepada putranya. Luqman mengajarkan kepada putranya bahwa jika ada perbuatan (dosa dan maksiat) walau seberat dan sekecil biji sawi pun dan berada di tempat yang tersembunyi—di dalam batu, di langit, atau di bumi—kelak Allah akan mendatangkan balasannya pada Hari Kiamat. Sebab, Allah Mahahalus dan Mahatahu. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, bagaimanapun kecilnya, sehingga seekor semut yang melata di malam yang gelap-gulita pun tidak akan luput dari pengetahuan-Nya .
Selanjutnya, Luqman mengajarkan kepada putranya tentang kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan kepada Allah. Kewajiban pertama: mendirikan shalat. Ibnu Katsir menafsirkan aqim ash- shalah dengan melaksanakannya tepat waktu dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan, syarat-syarat, dan rukun-rukunnya. Sedangkan ash-Shabuni menambahkan, yaitu dengan memelihara kekhusyukannya. Kewajiban kedua: amar makruf nahi mungkar, yakni memerintahkan kepada manusia untuk melakukan setiap kebaikan dan keutamaan serta melarang mereka dari setiap perbuatan buruk. Kewajiban ketiga: bersabar, yakni bersabar terhadap gangguan, rintangan, ujian, bahaya, dan bencana yang menimpa karena menjalankan amar makruf nahi mungkar. Ibn Abbas berkata, “Di antara hakikat iman adalah bersabar.”
Setelah pelaksanaan kewajiban, pengajaran Luqman yang berikutnya berupa larangan berakhlak buruk, yakni larangan berpaling dari manusia karena sombong dan menganggap rendah yang lain, serta larangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sebab, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Tentang sifat sombong yang tercela tersebut, Allah berfirman dalam surat al-Isra’ ayat 37:

]وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً[
Janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan dapat sampai setinggi gunung.(QS al-Isra’ [17]: 37).
Pengajaran selanjutnya adalah perintah berakhlak baik, yakni sederhana dalam berjalan; tidak terlampau cepat dan terburu-buru; tidak juga terlampau lambat dan bermalas-malasan; kemudian melunakkan suara (bila berbicara), tidak berteriak-teriak tanpa ada perlu, karena seburuk-buruk suara adalah suara kedelai. Al-Hasan berkata, “Dulu orang-orang musyrik membanggakan dirinya dengan bersuara tinggi.”
Qatadah berkata, “Seburuk-buruk suara adalah suara kedelai.”

B. ANALISIS PENDIDIKAN
Pelajaran yang bisa diambil dari rangkaian ayat di atas paling kurang mencakup tiga hal. Pertama, Kapabilitas yang harus dimiliki pendidik. Kedua, esensi bahan ajar bagi pendidik dalam proses pendidikan dengan peserta didik. Ketiga, pelajaran kepada seorang anak/ peserta didik dalam berbakti kepada orangtua.
1. Kapabilitas Orangtua/ Pendidik
Agar pendidikan anak berhasil sesuai dengan tuntutan Allah dan cita- cita orangtua, maka hendaklah orangtua/ pendidik memiliki beberapa kriteria yang akan senantiasa menjadi pijakan dalam proses pendidikan anak. Kriteria pertama adalah hikmah. Seorang pendidik harus memiliki hikmah, yaitu kemampuan berpikir yang baik dan ketelitian dalam bertindak serta memiliki kecintaan terhadap kebaikan dan kesyukuran. Hal ini akan berdampak kepada kemampuan orangtua/ pendidik dalam memberikan pembelajaran yang tepat, contoh yang akurat, dan dapat mengevaluasi setiap yang dilakukan baik oleh pendidik maupun peserta didik serta mengarahkan setiap proses pembelajaran ke arah yang benar, menuju insan kamil untuk mendapatkan ridla Allah..
Hikmah memiliki tiga dimensi. Pertama dimensi ritual, yakni kualitas pengabdian dan kesyukuran kepada Allah yang memberikan segala karunia-Nya untuk kepentingan manusia. Kedua, dimensi individual, yakni kebijaksanaan dan motivasi untuk senantiasa melakukan pengembangan dan peningkatan kualitas personal dalam usaha mencapai “kesempurnaan manusiawi”. Ketiga, dimensi sosial, yakni implementasi dari setiap pencapaian keilmuan dan keruhanian yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, orangtua dan pendidik, dan semua hal yang berkaitan dengan proses pendidikan harus mampu mengintegrasikan semua aspek ruhani dan jasmani untuk mencapai tujuan pendidikan secara bersamaan.
2. Esensi Bahan Pendidikan.
Apa sajakah yang harus diajarkan kepada anak? Luqman dengan hikmah yang dianugerahkan Allah kepadanya memberikan gambaran jelas tentang ini.
a. Aqidah
Pelajaran awal dan dasar yang harus ditanamkan oleh orangtua kepada anaknya adalah akidah. Di antaranya, pemahaman agar tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun, karena perbuatan syirik merupakan sesuatu yang buruk dan merupakan tindak kezaliman yang nyata, bahkan termasuk dosa besar yang kelak pelakunya akan di azab oleh Allah pada Hari Kiamat. Hal ini seiring dengan sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh al-Hakim dari Ibnu Abbas r.a.
Bacakanlah kalimat pertama kepada anak-anak kalian kalimat Lâ ilâha illâ Allâh. (HR al-Hakim) . Berdasarkan hadis tersebut, kalimat tauhid (Lâ ilâha illâ Allâh) merupakan sesuatu yang pertama masuk ke dalam pendengaran anak dan kalimat pertama yang dipahami anak. Hal ini seiring pula dengan anjuran azan di telinga kanan anak dan iqamah di telinga kirinya sesaat setelah kelahirannya di dunia ini .
Upaya menanamkan kalimat tauhid kepada anak dapat ditempuh dengan berbagai cara dan wasilah. Di antaranya mendengar, mengucapkan, dan menghapalkan kalimat-kalimat tauhid, ayat-ayat al-Quran, serta al-Hadis yang terkait dengannya; kemudian memahamkan maknanya serta menjelaskan berbagai jenis perbuatan syirik yang pernah dilakukan manusia, khususnya yang terjadi saat ini; selanjutnya menceritakan berbagai azab yang ditimpakan Allah kepada umat-umat terdahulu akibat perbuatan syirik mereka.
Penggunaan cara dan wasilah hendaknya disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Hendaknya memilih cara yang memudahkan anak untuk mengingat dan memahami pelajaran yang hendak diberikan serta memilih wasilah yang disukai anak-anak agar mereka tidak merasa terpaksa menerima suatu pengajaran yang diberikan. Dengan begitu, pembelajaran akidah tauhid ini berjalan dengan lancar dan anak tidak merasa dibebani sesuatu. Contohnya adalah dengan cara memperdengarkan nyanyian yang di dalamnya terkandung pemahaman tauhid, membacakan ayat-ayat al-Quran maupun Hadis Nabi saw. yang menjelaskan pemahaman tauhid, serta mengajak anak untuk sama-sama melafalkannya bila anak sudah mampu berbicara. Oleh karena itu, menanamkan tauhid kepada anak tidak harus dalam suasana belajar, bisa dilakukan kapan saja; pada saat anak bermain, makan, ataupun ketika menidurkannya. Dengan demikian, para orangtua sangat dibutuhkan perannya untuk menanamkan pemahaman tauhid ini di sepanjang hari-hari dan aktivitas anak.
Pemahaman akidah berikutnya yang harus ditanamkan kepada anak adalah senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita. Rasa syukur kepada Allah harus didahulukan dari rasa syukur kepada manusia, termasuk kepada kedua orangtua. Artinya, sekalipun orangtua sangat berjasa dalam memelihara dan mengasuh kita sejak dalam kandungan, rasa syukur kepada mereka tidak boleh mendahului rasa syukur kepada Allah. Sebab, tempat kembali semua makhluk hanyalah kepada Allah.
Upaya menancapkan rasa syukur kepada Allah bisa dilakukan dengan mengajak anak mengamati dan memikirkan karunia Allah yang diperoleh si anak, keluarganya, serta lingkungan sekitarnya. Di mulai dari hal yang paling sederhana dan mudah diamati sampai hal-hal yang membutuhkan pengamatan cermat.
Selanjutnya adalah menanamkan pemahaman tentang sifat-sifat Allah. Di antaranya Allah Mahakaya, Maha Terpuji, Mahatahu, dan Mahahalus; juga sifat-sifat lainnya yang tergolong dalam Asmâ’ al-Husnâ. Keyakinan terhadap sifat-sifat Allah akan menjadikan anak memiliki dorongan yang kuat untuk menaati segala perintah Allah.
Kekuatan akidah merupakan landasan untuk menaati semua perintah Allah berupa taklif hukum yang harus dijalankan sebagai konsekuensi keimanan. Oleh karena itu, perlu motivasi yang kuat, ketekunan yang sungguh-sungguh, serta kreativitas yang tinggi dari para orangtua terhadap upaya penanaman akidah yang kuat kepada anak. Dalam hal ini, harus ada penyesuaian bahasa (yang bisa dimengerti) anak, daya pikir (yang bisa dijangkau) anak, serta usia anak.
Semua ini berarti pula bahwa peserta didik harus memahami subtansi dari apa yang mereka pelajari dan nilai guna bagi kehidupan mereka sehingga mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.
Gambaran ideal sosok seorang anak yang sangat taat kepada Allah adalah Nabi Ismail. Beliau di usia kira-kira 13 tahun rela disembelih ayahnya (Nabi Ibrahim) ketika ayahnya mengatakan bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih Ismail. Kisah ini diabadikan dalam al-Quran surat ash-Shaffat ayat 102. Kisah Nabi Ibrahim dan anaknya juga memberikan gambaran kepada kita tentang keinginan yang kuat dari seorang ayah untuk memiliki seorang anak yang shalih sehingga beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih . Hal ini termaktub dalam al-Quran surat ash-Shaffat ayat 100.
b. Praktek Hukum
Setelah penanaman akidah, pembelajaran berikutnya yang harus ditanamkan kepada anak adalah pelaksanaan berbagai taklif hukum. Di antaranya adalah shalat dan amar makruf nahi mungkar. Kewajiban pertama yang diajarkan dan diperintahkan kepada anak adalah kewajiban shalat, karena shalat merupakan tiang agama dan amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat nanti. Pada usia 7 tahun anak sudah harus diperintahkan menjalankan ibadah shalat, bahkan kalau sampai usia 10 tahun anak masih meninggalkan shalat, diperintahkan kepada orangtua untuk memukulnya. Al-Hakim dan Abu Dawud menuturkan riwayat dari Ibn Amr bin al -‘Ash. Disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Ajarilah anak kalian shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia (jika tidak mau melaksanakannya) jika melewati usia sepuluh tahun. (HR ad-Darimi).
Perintah shalat ini dapat kita samakan dengan pelaksanaan kewajiban lain yang mampu dilaksanakan oleh anak seperti shaum, menutup aurat, amar makruf nahi mungkar, dan lain-lain; termasuk pergaulan antara laki-laki dan perempuan harus sudah terpisah pada saat usia mereka sepuluh tahun .
Berdasarkan hadis di atas, dapat digali pemahaman bahwa anak sudah seharusnya dilatih menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang Muslim sejak usia 7 tahun. Anak diberi sanksi bila meninggalkan kewajiban-kewajibannya pada saat usianya sudah mencapai 10 tahun. Hal ini berarti masa pembiasaan anak melaksanakan kewajiban-kewajibannya, selama 3 tahun, sejak usia tujuh tahun sampai 10 tahun. Sedangkan usia 10 tahun sampai menjelang balig bisa dikatakan masa pemantapan, karena si anak tidak boleh lagi meninggalkan kewajiban-kewajibannya. Dengan demikian, seorang anak sudah dipersiapkan sejak awal agar pada usia balig siap menjalankan semua taklif yang dibebankan Allah kepadanya.
Di lain sisi, seyogyanya pendidikan mestilah mengandung pendekatan- pendekatan praktik dan implementatif. Hal ini akan mendorong peserta didik mempraktekan seluruh keilmuannya guna mengambil manfaat dan menghindari madharatnya.
c. Akhlaq
Pembelajaran selanjutnya yang harus ditanamkan kepada anak adalah akhlak mulia, yakni sifat-sifat mulia yang harus menghiasi kepribadian anak. Di antaranya sabar (atas segala ujian dan cobaan), tidak berlaku sombong terhadap sesama manusia, tidak bersikap angkuh, sederhana dalam berjalan, dan lunak dalam bersuara.
Penanaman sifat-sifat mulia ini tidak akan sulit bila seiring dengan proses anak dalam melatih ketaatannya terhadap perintah Allah, yakni melalui pembiasaan anak menjalankan berbagai perintah Allah yang menjadi kewajibannya kelak. Sebab, sifat-sifat mulia tersebut merupakan buah dari pelaksanaan syariat Allah.
Ada satu hal yang sangat penting didapatkan si anak dalam proses pembelajarannya menjalankan berbagai kewajiban serta menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang mulia, yakni keteladanan dari para orangtua maupun pendidik. Inilah yang saat ini jarang dan sulit didapatkan si anak. Bahkan, tidak jarang si anak melihat sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman yang sedang ditanamkan kepadanya dilakukan oleh orang-orang di sekelilingnya, termasuk orangtua maupun para pendidik. Padahal, sudah merupakan tabiat manusia membutuhkan teladan, karena manusia lebih mudah menerima dan memahami apa yang dilihat dan dirasakannya daripada apa yang didengarnya. Karena itulah, kepada manusia diturunkan seorang Rasul di setiap generasi dari kalangannya sendiri (manusia juga), untuk mengajarkan dan mencontohkan pelaksanaan ajaran-Nya.
Oleh karena itu, para orangtua hendaklah mempersiapkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan si anak agar proses pembelajarannya bisa berjalan efektif. Janganlah membiarkan lingkungan anak, khususnya lingkungan rumah, merobohkan bangunan kepribadian anak yang sedang dibangun, karena ini sangat berbahaya bagi perkembangan si anak untuk berproses menjadi anak yang shalih.
Apabila para orangtua dan para pendidik di era sekarang mendidik anak sejak awal dengan mengikuti proses seperti yang diuraikan di atas, tidak mustahil akan terwujud generasi baru seperti Nabi Ismail, yakni generasi yang taat kepada Allah; generasi yang rela mengorbankan nyawanya dalam rangka menjalankan perintah Allah. Bila generasi muda kaum Muslim berkualitas seperti ini, kemenangan dan kejayaan Islam, insya Allah, akan berada dalam genggaman.
3. Pelajaran bagi Anak dan Orangtua (peserta didik & pendidik)
Allah memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya sebagai wujud rasa syukur atas pengorbanan keduanya dalam memelihara dan mengasuh si anak sejak dalam kandungan. Demikian pula pengorbanan ketika menyusui si anak selama dua tahun, terutama sang ibu. Karena itu, sekalipun kedua orangtuanya kafir, seorang anak tetap harus berbuat baik kepada keduanya. Hanya saja, seorang anak tidak boleh menaati keduanya dalam hal-hal yang melanggar perintah Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.
Orang manapun di muka bumi ini mestilah dia anak seseorang. Dalam kapasitas, situasi dan kondisi apapun ia dituntut untuk berbakti kepada orangtua. Dan siapapun orangtua itu pastilah menginginkan kebaikan yang lebih tinggi dari apa yang dapat ia capai saat itu. Asumsi ini sekurangnya melahirkan dua pengertian. Pertama, bahwa tanggungjawab dalam proses pendidikan, dalam lingkup manapun, mestilah menggunakan pendekatan kekeluargaan. Pendidik dengan segala cara mendorong dan mengupayakan ketercapaian target- target pendidikan bagi peserta didik. Kedua, pendidik dan peserta didik mestilah bersama- sama berupaya mencapai kebaikan yang lebih tinggi dari yang sudah diperoleh. Dari kedua pengertian tersebut patutlah kita memahami bahwa pendidikan merupakan upaya progresivitas vertikal nilai, ilmu dan peradaban.

C. KESIMPULAN
Surat Luqman ayat 12 – 13 merupakan salah satu rangkaian ayat dalam al Quran yang menyiratkan konsep pendidikan dalam Islam. Rangkaian ayat ini merupakan Islamic Base Education Concept yang di dalam nya terdapat unsur pendidik, peserta didik dan bahan didikan, dan pendekatan tanggungjawab pendidikan.
Dalam rangkaian ayat tersebut pendidik harus memiliki kapabilitas seorang yang ber”hikmah”, yakni yaitu kemampuan berpikir yang baik dan ketelitian dalam bertindak serta memiliki kecintaan terhadap kebaikan dan kesyukuran. Hal ini akan berdampak kepada kemampuan orangtua/ pendidik dalam memberikan pembelajaran yang tepat, contoh yang akurat, dan dapat mengevaluasi setiap yang dilakukan baik oleh pendidik maupun peserta didik serta mengarahkan setiap proses pembelajaran ke arah yang benar, menuju insan kamil untuk mendapatkan ridla Allah.
Sedangkan perserta didik adalah semua orang yang terlahir ke dunia ini. Secara garis besar pendidik dan peserta didik merupakan subjek dan objek didik yang sepadan dalam kapasitasnya masing- masing. Mereka bersama- sama terlibat dalam proses pendidikan guna mencapai suatu tujuan tertentu.
Esensi dari kesemua bahan ajar mestilah berupa akidah, praktek- praktek hukum dan akhlaq. Sebab ketiga hal ini menjamin keteraturan dan keserasian antar semua aspek kehidupan. Subtansi dari akidah dapatlah berarti bahwa peserta didik harus memahami subtansi dari apa yang mereka pelajari dan nilai guna bagi kehidupan mereka sehingga mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Di lain sisi, seyogyanya pendidikan mestilah mengandung pendekatan- pendekatan praktik dan implementatif. Hal ini akan mendorong peserta didik mempraktekan seluruh keilmuannya guna mengambil manfaat dan menghindari madharatnya. Hal yang tak kalah pentingnya adalah para orangtua hendaklah mempersiapkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan si anak agar proses pembelajarannya bisa berjalan efektif.
Tanggungjawab proses pendidikan ibarat proses tanggungjawab dalam kehidupan berkeluarga. Pendidik dan peserta didik berhubungan saling mempengaruhi dan mendorong ke arah yang lebih baik. Mestilah kita memahami bahwa pendidikan merupakan upaya progresivitas vertikal nilai, ilmu dan peradaban.

ISLAMIC BASE EDUCATION CONCEPT
(Surat Luqman ayat 12 – 19)
Makalah ini disusun sebagai tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Tafsir Tarbawy
Disusun Oleh:
Deni Nursamsi
NIM. 0861465

PROGRAM PASCASARJANA
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2009

DAFTAR BACAAN
Abu Bakar Jabir AL Jajairy
1995 Aisaru Tafasir, Maktabah al Ulum wal Hikam, Madinah Munawarah
Ahmad Wahidy Anaishabury
1989 Asbabunujul, Maktabah Atsaqafah, Beirut
Al Husny Asabiq
Tt. Fathurahman, Maktabah Dahlan, Indonesia
Ahmad Musthofa Al Maraghi
2001 Tafsir Al Maraghi, Darul Fikr, Beirut
Basam Ibnu Abdil Mubdy
2006 Mukhtasar Tafsir Al Qurthubi, Darul Ibnu Katsier, Beirut
Jalain
tt. Tafsir Jalalain, Jedah
Abdul Fatah Jalal
Min Usul al-Tarbiyah Fi al-Islam (1988)
Jalaluddin
Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001)
Jamali Syahrodi
Membedah Nalar Pendidikan Islam Pengantar ke Arah Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Pustaka Rihlah, 2005)
Muhamad Ali Ashabuny
1999 Shofwatu Tafasir, Darul Kutub Al Islamiyah, Makah
Muhamad Reisyahri
Anak di Mata Nabi, Al Huda, Jakarta
Sayid Sabiq
1992 Al Aqidah Al Islamiyah, Darul Fikr, Beirut
Umar Sulaeman al Asyqary
1983 Arrusul Warisalat, Maktabah Al Falah, Beirut
Dr Ir Muhammad Syahrur,
tt. Al Kitab Wa Al Quran Qiro’ah Mua’shiroh
Muhammad Izzududdin Taufik
2006 Dalil Anfus Al Qur an dan Embriologi, Tiga Serangkaih Solo
Harun Nasution
1986 Akal dan Wahyu Dalam Islam,: UI Press Jakarta
Taufik Pasiak,
2004 Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al Quran: Penerbit PT.Mizan Pustaka, , Bandung
AW Munawir
2002 Kamus Al Munawir Pustaka Progresif, Surabaya

Luqman Al Hakim:
1. Jangan mempersekutukan Allah. (Luqman [31]:13)
2. Berbuat baik kepada dua orang ibu-bapanya. (Luqman [31]:14)
3. Sadar akan pengawasan Allah (Luqman [31]:16)
4. Dirikan shalat. (Luqman [31]:17)
5. Perbuat kebajikan (Luqman [31]:17)
6. Jauhi kemungkaran (Luqman [31]:17)
7. Sabar menghadapi cobaan dan ujian (Luqman [31]:17)
8. Jangan sombong (Luqman [31]:19)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: