SEKULERISME

A. PENDAHULUAN
Secara etimologi sekularisme berasal dari kata saeculum (bahasa latin) yang memiliki arti waktu tertentu atau tempat tertentu. Atau lebih tepatnya menunjukkan kepada waktu sekarang dan di sini, dunia ini. Sehingga, sungguh tepat jika saeculum disinonimkan dengan kata wordly dalam bahasa inggrisnya . Maka sekularisme secara bahasa bisa diartikan sebagai faham yang hanya melihat kepada kehidupan saat ini saja dan di dunia ini (keduniaan an sich). Tanpa ada perhatian sama sekali kepada hal-hal yang bersifat spiritual seperti adanya kehidupan setelah kematian.
Oleh karena itu, sekularisme secara terminologi sering didefinisikan sebagai sebuah konsep yang memisahkan antara negara dan agama (state and religion). Yaitu, bahwa negara merupakan lembaga yang mengurusi tatatanan hidup yang bersifat duniawi dan tidak ada hubungannya dengan yang berbau akhirat, sedangkan agama adalah lembaga yang hanya mengatur hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat metafisis dan bersifat spiritual, seperti hubungan manusia dengan tuhan. Maka, menurut para sekular, negara dan agama yang dianggap masing-masing mempunyai kutub yang berbeda tidak bisa disatukan. Masing-masing haruslah berada pada jalurnya sendiri-sendiri.
B. SEJARAH SEKULARISME
Sejarah munculnya sekularisme sebenarnya merupakan bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada agama kristen saat itu (abad 15 an). Di mana kristen beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Padahal pada saat yang sama peradaban Islam saat itu sedang berada di puncak kejayaannya. Sehingga ketika perang salib berakhir dengan kekalahan di pihak Eropa, walau mereka mengalami kerugian di satu sisi, tetapi, sebenarnya mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yaitu inspirasi pengetahuan. Karena justru setelah mereka “bergesekan” dengan umat Islam di perang salib hal tersebut ternyata menjadi kawah candradimuka lahirnya renaissance beberapa abad setelahnya di Eropa. Setelah mereka menerjemahkan buku-buku filsafat yunani berbahasa arab dan karya-karya filosof Islam lainnya ke dalam bahasa latin.
Pada saat Eropa mengalami the dark age, kristen yang sudah melembaga (baca: Gereja) saat itu menguasai semua ranah kehidupan masyarakat Eropa. Politik, ekonomi, pendidikan dan semuanya tanpa terkecuali yang dikenal denga istilah ecclesiastical jurisdiction (hukum Gereja). Semua hal yang berasal dari luar kitab suci Injil dianggap salah. Filsafat yang notabene sebagai al-umm dari ilmu pengetahuan dengan ruang lingkupnya yang sangat luas, mereka sempitkan dan dikungkung hanya untuk menguatkan keyakinan mereka tentang ketuhanan yang trinitas itu. Mereka menggunakan filsafat hanya sekedar untuk menjadikan trinitas yang irasional menjadi kelihatan rasional. Dengan demikian secara otomatis filsafat yang seharusnya menjadi induk semang dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada menjadi mandul dan tidak berfungsi .
Ilmu pengetahuan yang menopang majunya sebuah peradaban malah dimusuhi. Ketika ada penemuan baru yang dianggap bertentangan dengan isi injil dianggap sebagai sebuah pelanggaran yang harus ditebus dengan nyawa. Sebagaimana yaang dialami Copernicus yang menyatakan teori heliosentrisnya yang notabene bertentangan dengan injil yang mengemukan teori geosentris.
Sesuai dengan teori arus air, jika ia ditahan maka lama kelamaan akan menjadi tenaga yang begitu dahsyat untuk mengahancurkan penahannya. Begitu juga yang terjadi di Eropa pada abad 15 dengan apa yang disebut renaissance sebagai lambang dari pembebasan masyarakat Eropa dari kungkungan kristen. Gerakan renaissance ini mulai digerakkan di berbagai lini, seni, gerakan pembaruan keagamaan yang melahirkan kristen protestan, humanisme dan penemuan sains . Yang selanjutnya diteruskan dengan masa enlightenment pada abad ke-18 satu abad setelah lahirnya aliran Filsafat Moderen pada abad ke-17.
Tirani Gereja
Kristen—sebagaimana yang kita ketahui—merupakan agama yang cinta damai, welas asih dan agama cinta kasih. Ini bisa dilihat dari perkataan Yesus yang memerintahkan murid-muridnya untuk memberikan pipi kanan jika dipukul pipi yang kiri. Namun, pada kenyataannya Gereja sebagai kristen yang melembaga justru menjadi tirani bagi bangsa Eropa pada abad pertengahan, yang membuat Eropa terpuruk selama berabad-abad dalam masa yang disebut the dark age.
Monopoli pemahaman dan penafsiran injil itu oleh para pemuka kristen (rijâlu ad-dîn) terus berlaku sampai akhirnya kristen mejadi agama resmi Romawi. Justru semenjak itu pula kristen melembaga menjadi institusi Gereja. Monopoli kitab suci semakin menjadi. Yang mana monopoli kitab suci tersebut berbuah kepada monopoli keberagamaan kristen. Monopoli itu pula menjadikan umat kristen sangat bergantung kepada institusi Gereja. Dan justru ketergantungan itu malah menambah keangkuhan para pemuka kristen sehingga menjadi tirani di Eropa.
Kekuasaan Gereja saat itu tidak hanya terbatas dalam bidang agama saja, lebih dari itu seluruh aspek kehidupan dikuasai seluruhnya oleh Gereja.
 Aspek keagamaan
Dalam aspek keagamaan, kristen setelah menjadi sebuah agama resmi yang formal (baca: melembaga) melalui counsil Nicea pada tahun 325 M. Di mana secara resmi para pemuka kristen—terutama Gereja barat—menobatkan Yesus sebagai tuhan anak. Dan siapa saja yang melawan keputusan counsil tersebut akan mendapatkan hukuman yang berat selain dicap sebagai seorang heretic. Melalui counsil-counsil yang selanjutnya dilakukan secara rutin untuk membahas permasalahan akidah dan syari’ah yang menurut mereka perlu disempurnakan itulah, Gereja memonopoli keagamaan umat kristen. Melalui counsil-counsil itu pula Gereja dengan mudah mengharamkan dan menghalalkan sesuatu.
 Aspek politik
Ketika kehidupan keagamaan masyarakat berhasil dikuasai, maka secara otomatis kekuasaan politik pun dikuasai pula. Raja-raja Eropa tidak bisa dengan sembarangan memberikan keputusan ataupun kebijakannya tanpa meminta pertimbangan Gereja. Saking berkuasanya Gereja, seorang uskup mempunyai wewenang untuk menurunkan seorang raja dari tahtanya. Atau minimalnya memboikot kekuasaan mereka, sehingga mereka menjadi raja tanpa kekuasaan.
 Aspek ekonomi
Kristen adalah agama yang banyak mengajarkan zuhud terhadap keduniaan. Namun anehnya para uskup penguasa Gereja sungguh terbalik keadaannya dengan yang seharusnya. Ketika mereka seolah mengharamkan bagi para pengikutnya untuk mencari harta duniawi, tetapi justru mereka sendiri yang meraup harta sebanyak-banyaknya melalui denda untuk menebus dosa. Di mana para pengikut kristen bisa terampuni dosanya jika telah mendapatkan pengampunan dari pendeta dengan cara membayar denda berupa uang.
Ada beberapa fenomena yang menggambarkan tentang tirani Gereja dalam aspek ekonomi ini , yakni kepemilikan tanah dengan sistem feodalisme, wakaf tanah, sepersepuluh dari penghasilan atau panen, pajak tahun pertama, hadiah, kerja secara cuma-Cuma
B. SEBAB-SEBAB LAHIRNYA SEKULARISME DARI RAHIM KRISTEN BARAT
Jika di atas merupakan sekilas tentang pembahasan mengenai sebab-sebab lahirnya sekularisme secara umum, maka di sini akan dibahas mengani sebab-sebab lahirnya sekularisme dari rahim kristen barat, secara khususnya.
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab lahirnya sekularisme dari rahim kristen barat. Diantaranya ialah:
Pertama, kristen barat sebenarnya adalah bukan lagi murni agama samawi. Dan penamaan kristen sendiri justru bukan lahir saat agama itu diturunkan kepada Nabi Isa (Yesus). Penamaan itu lahir setelahnya.
Kedua, ketika kristen bergeesekan dengan budaya Romawi dan filsafatnya yang notabene berbaukan ajaran paganisme, secara lambat laun namun pasti kristen terpengaruh oleh ajaran paganisme tersebut. Filsafa-filsafat Yunani (ketika itu Yunani sudah dikuasai Romawi) pun ikut mempengaruhi pokok-pokok ajaran kristen. Hal tersebut bisa dilihat dari simbol-simbol yang digunakan. Dan sebenarnya filsafat Yunani itulah yang mengandung benih-benih sekuler di dalamnya. Sebagaimana yang kita ketahui setelah filsafat naturalisme menggeser mitologi di Yunani, saat itu Yunani sudah beroirentasikan kepada meterialisme. Dalam artian, sudah tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang bersifat supranatural dan metafisis. Terbukti dengan pemikiran-pemikiran para filosof saat itu yang memandang bahwa alam ini terbuat dari unsur-unsur materi seperti air sebagaimana yang dikatakan Thales, tanpa memandang bahwa ada kekuatan metafisis yang menciptakan alam semesta ini tanpa bahan sekalipun.
Ketiga, karena dalam kristen ada teori two swords yang menyatakan bahwa adanya dua kekuasaan yaitu kekuasaan Tuhan yang diwakili oleh Gereja dan kekuasaan dunia yang diwakili oleh raja atau penguasa, dan hal ini adalah apa yang disabdakan sendiri oleh Yesus sebagaimana yang dikisahkan injil, ’’Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan”. Pada teori two swords inilah sebenarnya sudah mengandung benih-benih sekularisme . Karena ternyata sekularisme sebagai konsep yang berisikan memisahkan urusan agama dan dunia (negara) sudah—bisa dibilang—menjadi pokok ajaran kristen itu sendiri. Maka tidak aneh ketika ada theolog-theolog kristen yang setuju dengan sekularisme dengan alasan bahwa itu merupakan ajaran yang dinyatakan oleh injil itu sendiri .
Keempat, Kristen tidak mempunyai ajaran yang berbentuk syari’at . Karena Nabi Isa diutus oleh Allah untuk meluruskan syari’at Taurat yang telah diselewengkan dan bukan untuk membawa syari’at yang baru. Oleh sebab itu, di dalam injil lebih banyak berisikan ajaran akhlak dari pada ajaran aqidah atau syari’ah.
Dari empat sebab itulah (diantaranya) kristen mempunyai potensi besar untuk melahirkan sekularisme.
C. EFISTEMOLOGI SEKULARISME
Untuk saat ini penulis akan meminjam istilah Abdul Wahab Al-Masiri yang membagi istilah sekularisme kepada sekularisme totalistik dan parsial, karena secara esensi sekularisme totalistik identik dengan sekularisasi versi istilah Al-Attas. Sedangkan sekularisme parsial sebagai ideologi negara identik dengan sekularisme (an sich) menurut Al-Attas.
Menurut pembacaan Al-Attas, sekularisme totalistik memiliki tiga komponen integral, diantaranya: Penidak-keramatan alam, desakralisasi politik dan dekonsekrasi nilai-nilai.
Penidak-keramatan alam
Yang dimaksud dengan penidak-keramatan alam adalah pembebasan alam dari nada-nada keagamaan, memisahkannya dari Tuhan dan membedakan manusia dari alam itu. Sehingga sekularisme totalistik menganggap alam (baca: dunia) sebagai milik manusia sepenuhnya yang bisa digunakan semaunya, yang dengan demikian membolehkannya untuk berbuat bebas terhadap alam memanfaatkan menurut kebutuhan dan rencananya. Alam menurut paham ini sama sekali tidak mempunyai nilai-nilai sakral bahwa alam sebenarnya adalah ciptaan Tuhan yang selanjutnya manusia ditugaskan sebagai penjaga untuk melestarikannya.
Desakralisasi Politik
Yang dimaksud dengan desakralisasi politik adalah penghapusan legitimasi sakral kekuasaan politik, sebagaimana yang dipraktekan oleh kristen barat di masa lalu yang menganggap kekuasaan politik sebagai warisan Tuhan sehingga ada dogma yang menyatakan bahwa menghianati penguasa berarti menghianati Tuhan . Hal itulah yang mendorong lahirnya sekularisme dengan desakralisasi politik sebagai salah satu komponennya.
Dekonsekrasi Nilai
Yang dimaksud dengan dekonsekrasi nilai adalah pemberian makna sementara dan relatif kepada semua karya-karya budaya dan setiap sistem nilai termasuk agama serta pandangan hidup yang bermakna mutlak dan final. Sehingga dengan demikian nilai menurut sekularisme totalistik adalah relatif atau nisbi, sehingga dengan kata lain sekularisme totalistik menganut paham relativisme di dalam nilai. Bahwa tidak ada nilai absolut yang bisa dijadikan satu-satunya rujukan atau standar oleh manusia. Sehingga etika dan moral menurut sekularisme totalistik akan berbeda sesuai dengan tempat dan waktu yang berbeda pula. Satu-satunya yang bisa dijadikan standar menurut sekularisme totalistik adalah manusia itu sendiri.
Dengan dekonsekrasi nilai ini, maka sekularisme (dalam artian totalistik) bukan sebuah ideologi yang bersifat tertutup, karena ia tidak mengiginkan adanya nilai yang bersifat final dan mutlak. Karena secara materi manusia selalu berubah, maka begitu pula dengan nilai-nilai yang ada akan sesuai sifat materi manusia yang imanent dan profan.
D. KESIMPULAN
Sekulerism adalah sebuah konsep yang memisahkan antara negara dan agama (state and religion). Yaitu, bahwa negara merupakan lembaga yang mengurusi tatatanan hidup yang bersifat duniawi dan tidak ada hubungannya dengan yang berbau akhirat, sedangkan agama adalah lembaga yang hanya mengatur hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat metafisis dan bersifat spiritual, seperti hubungan manusia dengan tuhan.
Sejarah munculnya sekularisme sebenarnya merupakan bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada gereja saat itu (abad 15 an) karena dominasi sosio- ekonomi dan cultural dan tindakan refresi terhadap penggunaan tafsir (juga: pengetahuan) diluar gereja.
Sedangkan inti ajaran dari sekulerisme mencakup Penidak-keramatan alam, Desakralisasi Politik dan Dekonsekrasi Nilai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: