TUJUAN PENDIDIKAN DALAM FILSAFAT DAN ILMU

TUJUAN PENDIDIKAN PADA TINGKAT FILSAFAT DAN ILMU
A. PENDAHULUAN
Pada abad kesembilanbelas, tokoh pendidikan mencari jawaban atas pertanyaan filosofis dalam sistem pendidikan. Misalnya, sebelum kematiannya di 1906, William Torrey Harris, Komisaris Pendidikan Amerika Serikat dan presiden dari Asosiasi Pendidikan Nasional Amerika menerbitkan hampir 500 karya tulis tentang pendidikan. Meskipun Harris menulis tentang berbagai topik, dia tidak mencari jawaban empiris dalam studi atau survei pendapat para pendidik. Sebaliknya, ia menemukan jawaban pada filsafat Georg Wilhelm Friedrich Hegel . Demikian pula, ketika sekelompok pendidik bangkit menantang konsep kurikulum Harris di Nea pada pertemuan tahun 1895, dimana mereka berbasis pada ide-ide Johann Friedrich Herbart .
Dalam upaya untuk menyelesaikan kontroversi, John Dewey berusaha mencari jalan untuk mempertajam perbedaan pendapat dengan cara filosofis pada perspektif yang dikenal sebagai pragmatisme . Pada awal abad kedua puluh, para pendidik lebih memilih kembali kepada ilmu dari pada filsafat untuk menjawab persoalan- persoalan yang menyangkut pendidikan. Sebagai contoh, di 1911, G. Stanley Hall mengeluhkan bahwa, dua puluh lima tahun sebelumnya, pendidikan didasarkan pada apa yang disebut metafisik dari Harris yang telah memberikan kewenangan lebih besar kepada paus daripada pendidik. Hall menyatakan bahwa gerakan pembelajaran anak mestilah sejalan dengan fasilitas guru untuk mengarahkan potensi- potensi yang dimiliki anak . Meskipun Hall sangat bersemangat terhadap ilmu pengetahuan, tetapi ia tidak menihilkan filsafat. Selama abad kedua puluh filosof mengambil arah yang lebih realistis. Misalnya, para fislosof saat itu lebih merupakan para insinyur dan sarjana social yang dengan pekerjaannya berharap dapat berpartisipasi dalam perubahan dunia . Tetapi nampaknya, pada prakteknya, system pendidikan dimanapun dan kapanpun senantiasa dipengaruhi oleh filsafat dan ilmu yang berkembang saat itu.
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori (ilmu) pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan.
Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik .
Bila kita cermat memahami perkembangannya, maka akan terlihat saling mempengaruhinya antara ilmu dan filsafat, filsafat dan ilmu , maka oleh karena itu makalah ini akan membahas secara sederhana tujuan pendidikan pada tingkat filsafat dan ilmu.

B. FILSAFAT
Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta- fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh ilmu pendidikan .
Beberapa aliran filsafat yang berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, misalnya, idealisme, realisme, pragmatisme, humanisme, behaviorisme, dan konstruktivisme .
a. Idealisme
Menurut L Bagus, Idealisme dari bahasa Inggris yaitu Idealism dan kadang juga dipakai istilahnya mentalisme atau imaterialisme. Istilah ini pertama kali digunakan secara filosofis oleh Leibniz pada mula awal abad ke- 18. Leibniz memakai dan menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, secara bertolak belakang dengan materialisme Epikuros. Idealisme ini merupakan kunci masuk ke hakikat realitas .
Inti pandangan aliran Idealisme adalah bahwa pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa kita. Untuk membawanya pada tingkat kesadaran perlu adanya proses introspeksi. Tujuan pendidikan aliran ini membentuk karakter manusia.
b. Realisme
Realisme cenderung percaya bahwa apapun yang kita percayai sekarang ini hanya perkiraan dan bahwa setiap pengamatan baru membawa kita lebih dekat untuk memahami kenyataan
Aliran ini berpandangan bahwa hakikat realitas adalah fisik dan ruh, bersifat dualistis. Tujuan pendidikannya membentuk individu yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat.
c. Pragmatisme
Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952) .
Paham ini juga dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan positivisme. Esensi ajarannya, hidup bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk menemukan arti atau kegunaan. Tujuan pendidikannya menggunakan pengalaman sebagai alat untuk menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan priabdi dan masyarakat.
d. Humanisme
Humanisme adalah istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu . Paham ini berpandangan bahwa pendidikan harus ditekankan pada kebutuhan anak (child centered). Tujuannya untuk aktualisasi diri, perkembangan efektif, dan pembentukan moral.
e. Behaviorisme
Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme. Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.
Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya .
Aliran ini memandang perubahan perilaku setelah seseorang memperoleh stimulus dari luar merupakan hal yang sangat penting. Oleh sebab itu, pendidikan behaviorisme menekankan pada proses mengubah atau memodifikasi perilaku. Tujuannya untuk menyiapkan pribadi-pribadi yang sesuai dengan kemampuannya, mempunyai rasa tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.
f. Konstruktivisme,
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri. Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut . Artinya, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang. Tujuan pendidikannya menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.
Disamping aliran- aliran filsafat tersebut di atas, Burhanudin Salam menyebut pula empat aliran besar lainnya dalam filsafat yang mempengaruhi konsep- konsep pendidikan, yakni progresivisme, perenialisme, esensialisme dan eksistensialisme .
a. Progresivisme
Paha mini berdasar pada falsafah naturalism romantik dari Ressou dan pragmatisme John Dewey. Pandangan Ressou tentang hakikat manusia dan ajaran minat dan kebebasan dalam teori pengetahuan menjadi dasar dari aliran ini .
Naturalisme berpendapat bahwa manusia dilahirkan dalam kebaikan alam ke tengah masyarakat yang tidak baik. Walaupun masyarakat tidak harus dihilangkan, dengan alas an kontrak social, tetapi sedapat mungkin keadaan alamiah itu harus dipelihara di dalam persekutuan social yang terdapat kebebasan dan persamaan. Kemudian pragmatism menambahkan bahwa hidup akan senantiasa berubah, berbaharu. Dalam proses pembaharuan itu lah letak pentingnya pendidikan , yang memiliki tujuan tertentu. Dalam merumuskan tujuan progresivisme mengemukakan tiga criteria, yakni: 1). Tujuan pendidikan harus bersumber kepada situasi kehidupan yang berlangsung, 2). Tujuan pendidikan harus fleksibel, dan 3). Tujuan pendidikan harus mencerminkan aktivitas bebas. Perlu dicatat pula bahwa dalam paham ini tujuan bersifat temporal, yang berarti jika suatu tujuan sudah tercapai maka hasilnya dijadikan alat untuk mencapai tujuan berikutnya.
Menurut aliran ini, tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kehidupan yag baik bagi individu dan masyarakat. Kehidupan terbaik bagi individu adalah kehidupan yang intelegen, bebas dan memiliki control terhadap pengalamannya. Sedangkan yang terbaik bagi masyarakat adalah kehidupan demokratis, dan tidak ada stratifikasi social, kesamaan kesempatan merupakan jaminan bagi setiap orang untuk ambil bagian dalam setiap kegiatan sosial .
b. Perenialisme
Perenialisme memandang bahwa dunia penuh kekacauan, ketidakpastian dan tidak beres. Maka dari itu diperlukan sesuatu yang bersifat mutlak. Untuk memperoleh hal tersebut Perenialis mengambil kembali nilai- nilai dan prinsip- prinsip umum pada jaman kuno yang diyakini menjadi landasan berkembangnya peradaban manusia dari masa- ke masa .
Dalam pendidikan kaum perenialis berprinsip bahwa pada hakikatnya manusia itu sama, yakni manusia adalah hewan yang rasional. Rasionalitas yang menjadi unifikasi manusia kemudian menjadi identitas utama yang menempatkan manusia pada posisi tertinggi. Maka dari itu pendidikan haruslah bertujuan untuk memperbaiki manusia sebagai manusia .
c. Esensialisme
Esensialisme nampaknya bukan sebuah madhab filsafat tertentu, melainkan mereka yang bersepakat tentang prinsip- prinsip dasar yang berhubungan dengan pendidikan, yang antara lain:
1. Belajar melibatkan kerja keras, disiplin dan terkadang menimbulkan keengganan.
2. Inisiatif harus ditekankan kepada guru.
3. Inti dari proses pendidikan adalah asimilasi dari subjek materi yang telah ditentukan.
4. Sekolah harus mempertahankan metode- metode tradisional yang berkaitan dengan disiplin mental.
5. Tujuan akhir pendidikan adalah meningkatkan kesejahteraan umum .
d. Eksistensialisme
Paham ini memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dalam dunia. Cara ini berbeda dengan cara makhluk lainnya. Manusia berada bersama dengan manusia dan makhluk lainnya itu akan berarti karena manusia
Dalam kontek pendidikan eksistensisalisme mempolanya dengan dialog dimana individu dapat menemukan pemahaman dirinya dan kesadaran akan dunianya. Tujuan pendidikan dari aliran ini adalah menciptakan manusia yang memiliki tujuan, dan tujuan itu bersifat situasional dan dapat diperoleh dalam situasi tersebut .
Dari uraian tersebut di atas, kita dapat melihat aneka macam tujuan pendidikan berdasarkan pada lingkungan falsafah yang memayunginya. Hal ini kelak akan mempengaruhi konsep pendidikan di tingkat yang lebih operasional, yakni wilayah ilmu.
C. ILMU
Pemahaman terhadap konsep pendidikan setidaknya berorientasi pada dua aktifitas utama yaitu pendidikan sebagai tindakan manusia sebagai usaha membimbing manusia yang lain (educational practice), dengan pendidikan sebagai ilmu pendidikan (educational thought). Pendidikan sebagai suatu tindakan sudah berlangsung lama sebelum orang berfikir tentang bagaimana mendidik. Bahkan dapat dikatakan pendidikan dalam artian ini sudah ada sejak leberadaan manusia di dunia ini, sedangkan pendidikan sebagai ilmu baru lahir kira-kira pada abad 19.
Dalam pengembangannya ilmu pendidikan memiliki dua tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk pengembangan suatu ilmu, yang berorientasi pada kebenaran suatu ilmu itu sendiri. Dengan cara ini akan menghasilkan ilmu teoritis murni yang tidak menghiraukan kegunaannya dalam praktik. Di samping tujuan tersebut ilmu pendidikan mengembangkan ilmu yang selanjutnya dapat digunakan dalam praktik pendidikan sehari-hari. Hal yang demikian ini sering disebut dengan ilmu bersifat praktis. Artinya teori yang ditemukan harus berorientasi pada praktik, atau dapat dipraktikan.
Sebagai konsekuensinya pada level ini, corak pendidikan menjadi lebih komplek, beragam dan bervariasi. Dengan alasan tersebut dalam makalah ini, saya hanya akan mengurai tujuan pendidikan dalam presfektif Ilmu Pendidikan Islam.
Islam yang memiliki sifat universal dan kosmopolit dapat merambah ke ranah kehidupan apapun, termasuk dalam ranah pendidikan. Ketika Islam dijadikan sebagai paradigma ilmu pendidikan paling tidak berpijak pada tiga alasan. Pertama, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora tergolong ilmu normatif, karena ia terkait oleh norma-norma tertentu. Pada taraf ini, nilai-nilai Islam sangat berkompeten untuk dijadikan norma dalam ilmu pendidikan. Kedua, dalam menganalisis masalah pendidikan, para ahli selama ini cenderung mengambil teori-teori dan falsafah pendidikan Barat. Falsafah pendidikan Barat lebih bercorak sekuler yang memisahkan berbagai dimensi kehidupan, sedangkan masyarakat Indonesia lebih bersifat religius. Atas dasar itu, nilai-nilai ideal Islam sangat memungkinkan untuk dijadikan acuan dalam mengkaji fenomena kependidikan. Ketiga, dengan menjadikan Islam sebagai paradigma, maka keberadan ilmu pendidikan memilih ruh yang dapat menggerakkan kehidupan spiritual dan kehidupan yang hakiki. Tanpa ruh ini berarti pendidikan telah kehilangan ideologinya.
Pembahasan konsep dan teori tentang pendidikan sampai kapan pun selalu saja relevan dan memiliki ruang yang cukup signifikan untuk ditinjau ulang. Paling tidak terdapat tiga alasan mengapa hal itu terjadi: Pertama, pendidikan melibatkan sosok manusia yang senantiasa dinamik, baik sebagai pendidik, peserta didik maupun penanggung jawab pendidikan; Kedua, perlunya akan ivonasi pendidikan akibat perkembangan sanis dan teknologi; Ketiga, tuntutan globalisasi, yang meleburkan sekat-sekat agama, ras, budaya bahkan falsafah suatu bangsa. Ketiga alasan itu tentunya harus diikuti dan dijawab oleh dunia pendidikan, demi kelangsungan hidup manusia dalam situasi yang serba dinamik, inovatif dan semakin mengglobal.
Salah satu aspek penting dan mendasar dalam pendidikan adalah aspek tujuan. Merumuskan tujuan pendidikan merupakan syarat mutlak dalam mendefiniskan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan atas konsep dasar mengenai manusia, alam, dan ilmu serta dengan pertimbangan prinsip prinsip dasarnya. Hal tersebut disebabkan pendidikan adalah upaya yang paling utama, bahkan satu satunya untuk membentuk manusia menurut apa yang dikehendakinya. Karena itu menurut para ahli pendidikan, tujuan pendidikan pada hakekatnya merupakan rumusan-rumusan dari berbagai harapan ataupun keinginan manusia .
Maka dari itu berdasarkan definisinya, Rupert C. Lodge dalam philosophy of education menyatakan bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman. Sehingga dengan kata lain, kehidupan adalah pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan itu. Sedangkan Joe Pack merumuskan pendidikan sebagai “the art or process of imparting or acquiring knomledge and habit through instructional as study”. Dalam definisi ini tekanan kegiatan pendidikan diletakkan pada pengajaran (instruction), sedangkan segi kepribadian yang dibina adalah aspek kognitif dan kebiasaan. Theodore Meyer Greene mengajukan definisi pendidikan yang sangat umum. Menurutnya pendidikan adalah usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk suatu kehidupan yang bermakna. Alfred North Whitehead menyusun definisi pendidikan yang menekankan segi ketrampilan menggunakan pengetahuan .
Untuk itu, pengertian pendidikan secara umum, yang kemudian dihubungkan dengan Islam -sebagai suatu sistem keagamaan- menimbulkan pengertian pengertian baru yang secara implisit menjelaskan karakteristik karakteristik yang dimilikinya. Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya, dalam konteks Islam inheren salam konotasi istilah “tarbiyah”, “ta’lim” dan “ta’dib” yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah itu mengandung makna yang amat dalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah istilah itu sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam; informal, formal, dan nonformal .
Ghozali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa. Dengan ini pula keutamaan itu akan merata dalam masyarakat .
Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang ideal, yaitu “Rohmatan Lil ‘Alamin”. Selain itu, sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi dimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia, atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan dunia yang makmur, dinamis, harmonis dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al Qur’an. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal, sebab visi dan misinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamin”, yaitu untuk membangun kehidupan dunia yang yang makmur, demokratis, adil, damai, taat hukum, dinamis, dan harmonis .
Munzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan-keinginan lainnya. Bila dilihat dari ayat-ayat al Qur’an ataupun hadits yang mengisyaratkan tujuan hidup manusia yang sekaligus menjadi tujuan pendidikan, terdapat beberapa macam tujuan, termasuk tujuan yang bersifat teleologik itu sebagai berbau mistik dan takhayul dapat dipahami karena mereka menganut konsep konsep ontologi positivistik yang mendasar kebenaran hanya kepada empiris sensual, yakni sesuatu yang teramati dan terukur .
Qodri Azizy menyebutkan batasan tentang definisi pendidikan agama Islam dalam dua hal, yaitu; a) mendidik peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam; b) mendidik peserta didik untuk mempelajari materi ajaran Islam. Sehingga pengertian pendidikan agama Islam merupakan usaha secara sadar dalam memberikan bimbingan kepada anak didik untuk berperilaku sesuai dengan ajaran Islam dan memberikan pelajaran dengan materi-materi tentang pengetahuan Islam .

DAPTAR BACAAN

Ahmad Qodri Azizy
Islam dan Permaslahan Sosial; Mencari Jalan Keluar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003
Ahmad Tafsir
Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002
Anna Poedjiadi
Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik. Yayasan Cendrawasih 1999.
Anna Poedjiadi
Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik. Yayasan Cendrawasih. Bandung1999
Azyumardi Azra
Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002
Simon Blackburn
Truth: A Guide. Oxford University Press, Inc. . Oxford University Press 2005
Burhanudin Salam
Pengantar Paedagogik, Rineka Cipta, Jakarta 1997
Dekontruksi Pragmatisme, Makalah disampaikan dalam Halaqah Syahriyah (Kajian Bulanan) Hizbut Tahrir, di Bogor, bulan Agustus 1995.
Disarikan dari perkuliahan filsafat ilmu, Ahmad Tafsir, 26 November 2008
DR. phil. Hana Panggabean
Makalah Seminar Psikologi, tt, tp
G. Stanley Hall
Educational Problems (New York: Appleton and Co.) George Santayana
“Philosophical Opinion in America,” Proceedings of the British Academy London: Oxford University Press).
Glasersfeld, E. von
Constructivism in Education. In: T. Husen & T. N. Postlethwaite, (ed.) International encyclopedia of education, Supplement Vol. 1. Oxford/New York: Pergamon Press
Harun Yahya
Ancaman Global Freemasonry: Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik, tt
Henry Ridgely Evans
“A List of the Writings of William Torrey Harris,”Report of the U.S. Commissioner of Education 1 (Washington, D.C.: GPO)
Hujair AH. Sanaky
Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI

John Dewey
Child and Curriculum, and The School and Society (Chicago:University of Chicago Press, 1971
George F Kneller
Introduction to the Philosophy of Education. John Willey Sons Inc, New York 1971.
Loren Bagus
Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta, 1996
Munzir Hitami
Menggagas Kembali Pendidikan Islam, Yogyakarta: Infinite Press, 2004

National Education Association
Report of the Committee of Fifteen onElementary Education with the Reports of the Subcommittees (New York: American Book Company)

One Response to TUJUAN PENDIDIKAN DALAM FILSAFAT DAN ILMU

  1. […] TUJUAN PENDIDIKAN DALAM FILSAFAT DAN ILMU « http://Www.wijaksana.co.cc Hal tersebut disebabkan pendidikan adalah upaya yang paling utama, bahkan satu satunya untuk membentuk manusia menurut apa yang dikehendakinya. Karena itu menurut para ahli pendidikan, tujuan pendidikan pada hakekatnya merupakan Sumber: https://deninursamsi.wordpress.com/2009/03/31/akal-menurut-al-quran/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: