DESKRIPSI AYAT AL QURAN BERKAITAN DENGAN AKAL MANUSIA

A. Pendahuluan
Manusia merupakan makhluq paling sempurna yang pernah diciptakan Allah, potensi yang ada pada diri setiap manusia dapat membedakannya dengan makhluk lainnya. Salah satu potensi penting yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah akal.
Sebelum sampai kepada pengertian konsep al aql secara utuh, dalam kehidupan atau percakapan sehari-hari terdapat suatu fenomena tentang otak dan akal ibarat dua sisi dari mata uang logam, sulit dipisahkan baik kata maupun makna – ada keterikatan dan keterkaitan kuat diantara keduanya – sehingga perlu dijelaskan.
Otak adalah organ tubuh manusia yang posisinya ditempatkan Tuhan secara terhormat di bagian atas tubuh manusia dan terlindungi dengan kokoh di bagian dalam tengkorak (batok) kepala. Posisi otak ini merupakan simbol yang menunjukkan bahwa manusia lebih mulia terhadap makhluk ciptaan Tuhan lainnya, misalnya hewan yang lokasi dan posisi otaknya sejajar dengan bagian tubuh terhina dan tempat meyimpan dan mengeluarkan kotorannya (perut dan dubur atau tumbuhan yang tidak mempunyai otak dan tidak diketahui dimana posisi otaknya jika ada.
Muhammad Izuddin Taufiq (2006) dalam bukunya Dalil Anfus Al Qur an dan Embriologi (Ayatayat tentang Penciptaan Manusia) mengatakan : Bagian tubuh yang paling ambigu yang masih menyelimuti tubuh manusia adalah OTAK karena ia merupakan tempat berfikir yang berkaitan dengan roh atau jiwa, sedangkan roh atau jiwa itu merupakan sesuatu yang ambigu .
Maka tidak heran, jika ada yang menyamakan makna antara otak dan akal, begitu juga yang membedakannya. Harun Nasution termasuk orang yang membedakan, dan menyatakan bahwa akal dalam pengertian Islam bukanlah otak , melainkan daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia; daya sebagaimana digambarkan Al Qur an, memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya .
Dalam Al Quran kata akal dalam bentuk derivasinya tidak kurang disebut sebanyak 48 kali .
Akal dalam bentuk Fi’il Mudhore jama’ ( atau ) merupakan bentuk yang paling sering digunakan, sedangkan untuk mufradnya digunakan pada surat Al Mulk ayat 100 dan Al Ankabut ayat 43. Sementara dalam bentuk Fi’il Madhi hanya terdapat pada surat Al Baqarah ayat 75.

B. Beberapa Pengertian
Dalam bahasa Indonesai akal berarti daya pikir, pikiran dan ingatan , sedangkan dalam bahasa Arab akal ( Aql) berarti akal pikiran, hati, ingatan, daya pikir, faham, diyat, benteng atau tempat berlindung . Dalam bahasa inggris akal barangkali tepat jika diterjemahkan sebagai kata cognition (knowing; awareness; including sensation but exluding emotion) .
Menurut Jabir Al Jajiry akal adalah kekuatan bathin yang dimiliki seseorang untuk membedakan yang baik dengan yang buruk dan mengambil manfaat serta menjauhkan madharat . Ali Ashabuny mengartikan akal () sebagai membuka pikiran atau memahami terhadap suatu objek meski hanya sedikit . Sedangkan Amr Sulaiman al Asyqary menjelaskan bahwa akal memiliki 2 karakter. Yang pertama, akal merupakan pembeda dari sesuatu yang baik dengan yang buruk; ini pula yang membedakan antara manusia dengan binatang. Yang kedua, akal merupakan identitas tertinggi dibanding dengan makhluk lainnya .
Dari penjelasan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa akal adalah sarana untuk memahami seuatu objek yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

C. Potensi Akal
Pengunaan akal yang menjadi semangat tiap wahyu yang di turunkan Alloh adalah keniscaya’an sejati, mengingat kebenaran wahyu yang turun dari yang maha benar. Dan kebenaran ini menjadi sering diragukan manakala ia tidak bisa di pertanggung jawabkan secara rasional. Tentunya tidak mungkin Allah menurunkan wahyu untuk di fahami, sementara pada sa’at yang sama ia tidak masuk akal , meskipun tidak dipungkiri bahwa terdapat banyak ayat yang tidak (baca: belum) bisa dipahami secara rasional.
Allah berfiman:
               
Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.( Yunus: 100)
Dalam menafsirkan ayat ini Al Qurthubi memberikan penekanan bahwa iman seseorang itu mestilah atas ijin Allah, tetapi orang yang tidak menggunakan akal untuk mencapainya pasti mendapat adzabNya . Ditempat yang berbeda Al Maraghi menegaskan bahwa akal dapat membimbing manusia mendapatkan petunjuk (hidayah) dari Allah .
Di ayat lain Allah berfirman:
        
Dan barangsiapa yang kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (Yasin: 68)
Ayat ini merupakan bagian akhir dari rangkaian ayat yang mendemonstrasikan kekuasaan Allah
66. Dan Jikalau kami menghendaki Pastilah kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya).
67. Dan Jikalau kami menghendaki Pastilah kami ubah mereka di tempat mereka berada; Maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.
Secara fisik Allah dapat menghilangkan pandangan manusia meskipun matanya tetap ada, atau pandangan tetap ada tetapi tidak diberikan cahaya untuk memantulkan objek penglihatan, hasilnya orang yang diperlakukan Allah seperti itu tidak dapat beranjak dari tempatnya. Dan keadaan tersebut dapat disaksikan oleh setiap orang, seperti halnya orang yang diberi umur yang panjang maka pada titik tertentu ia akan kembali seperti pertama kali ia dilahirkan dan berkembang. Bila Allah bisa melakukan hal tersebut, maka Allah juga berkuasa untuk membangkitkan setelah kematian .
Di sini jelas Allah meminta manusia menggunakan akalnya untuk memahami siklus alami agar dapat meyakini bahwa Allah Maha Kuasa. Tetapi pada saat yang sama akal juga dapat mendorong manusia untuk berbuat sebaliknya, yakni ketika akal mendapat pengetahuan yang jelas ia mampu memutarbalikannya. Seperti dalam firman Allah sebagai berikut:
                    
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Al Baqarah: 75)
Jabir Al Jajairy memberikan catatan untuk kalimat   yakni mereka memahami dengan jelas dan terang kemudian mereka memutarbalikannya dengan sengaja . Ali Ashabuny lebih spesifik menyebutkan bahwa sebagian rahib- rahib Yahudi telah melakukan penggantian terhadap ayat- ayat Allah dalam taurat dan atau menta’wilnya secara berlebihan setelah mereka memahami dan menguasai makna kandungan dalam kitab suci tersebut untuk menghindari pengakuan kenabian Muhamad dan risalah yang dibawanya .
                             •         •            
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (Al An’am: 151)
Dalam menjelaskan ayat ini Al Qurthubi mengutip Ibnu Abbas bahwa ayat ini merupakan ayat muhkamat yang ditujukan kepada segenap makhluk tanpa terkecuali, yakni bacaan seruan yangberisi larangan keras untuk musyrik kepadaNya, berbuat baik kepada orangtua, tidak membunuh anak karena takut tidak tercukupi rizqinya, melarang segala bentuk kemaksiatan dan tidak boleh membunuh yang bukan haknya .
Ali Ashabuny memberikan penjelasan tambahan bahwa isi yang berupa perintah dari ayat ini diakhiri dengan taukid  , artinya Allah mendorong manusia untuk melakukan perintah ini dengan dibarengi pemahaman untuk mendapat kebaikan baik untuk agama, dunia dan akhirat .
Ada hal yang menarik berkaitan pemahaman sebagian banyak orang tentang akal, juga menyangkut beberapa pendapat yang saya kutip di awal makalah ini, yakni letak akal yang dimaksud Al Quran. Apakah di kepala? Seperti umumnya pendapat kaum kedokteran, terutama bidang neurologi. Atau dalam jiwa seperti pendapat Harun Nasution?
Sebuah ayat dalam surat Al Haj ayat 46 sebagai berikut:
              •          
46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
AL Maraghi berpendapat bahwa akal memerlukan penglihatan dan pendengaran agar dapat berfungsi. Demikian juga hati agar “berakal” membutuhkan mata hati (bashirah) dan kepekaan mental . AL Maraghi nampaknya hanya mengasumsikan bahwa hati memiliki perangkat yang sama agar dapat berfungsi sebagaimana akal, hanya berbeda dalam sisi bentuk dan karakternya. Sedangkan Al Qurthubi berpendapat bahwa hati adalah tempatnya akal seperti halnya telinga tempatnya pendengaran . Senada dengan AlQurthubi, Al Jajairy menyatakan bahwa ayat diatas jelas menunjukan jika tempat akal adalah hati seraya mengutip pertanyaan Umu Maktum kepada nabi “ di dunia ini saya buta, apakah di akhirat kelak saya tetap buta?” maka Allah menurunkan ayat di atas sebagai jawabannya .
Dari penjelasan di atas nampak ada benang merah yakni bahwa antara akal dan hati saling terkait dan mempengaruhi yang satu dengan yang lainnya.
D. Analisis dan Kesimpulan
Dalam AL Quran kata aql yang berarti akal tidak ditemukan dalam bentuk isim, seluruhnya berbentuk kata kerja (Fi’il ). Hal ini menunjukan secara alami bahwa akal senantiasa bekerja dalam kuantitas dan kualitas tertentu, bahkan penelitian neurologi modern menemukan bahwa sedang tidur sekalipun otak menunjukan aktivitas dalam level tertentu.
Al Quran tidak membatasi lingkup kerja akal, hanya saja akal perlu mendapat panduan yang tepat sehingga tidak terjadi pembiasan, maka dari itu dalam Al Quran terdapat istilah Tafakur dan Tadabur. Dua istilah tersebut merupakan konsep berpikir yang islami. Tafakur adalah proses perenunganilmiah yang memiliki metode dan manfaat dunia dan akhirat yang melibatkan ayat- ayat kauniyah, dan Tadabur adalah kajian intlektual terhadap ayat- ayat quraniyah untuk mengeluarkan makna- maknanya secara utuh dan menyeluruh . Kedua konsep berpikir tersebut harus dapat memberikan solusi terhadap persoalan- persoalan yang dihadapi manusia ( Ulul Albab).
Pada ayat- ayat al Quran yang memuat kata aql paling kurang terdapat tiga kategori. Yaitu:
1. Identifikasi
Ayat ini biasanya menggunakan kalimat  ,  dll
2. Motivasi
Ayat ini biasanya menggunakan kalimat  tanpa dengan fi’il mudhore mufrad
3. Sugesti
Ayat ini biasanya menggunakan kalimat   dll
Hal tersebut mengindikasikan bahwa potensi akal manusia dapat diolah, dioptimalkan, dibentuk, didorong, dihidupkan bahkan juga dimatikan.

DAFTAR BACAAN
Abu Bakar Jabir AL Jajairy
1995 Isaru Tafasir, Maktabah al Ulum wal Hikam, Madinah Munawarah
Ahmad Wahidy Anaishabury
1989 Asbabunujul, Maktabah Atsaqafah, Beirut
Al Husny Asabiq
Tt. Fathurahman, Maktabah Dahlan, Indonesia
Ahmad Musthofa Al Maraghi
2001 Tafsir Al Maraghi, Darul Fikr, Beirut
Basam Ibnu Abdil Mubdy
2006 Mukhtasar Tafsir Al Qurthubi, Darul Ibnu Katsier, Beirut
Jalain
tt. Tafsir Jalalain, Jedah
Muhamad Ali Ashabuny
1999 Shofwatu Tafasir, Darul Kutub Al Islamiyah, Makah
Sayid Sabiq
1992 Al Aqidah Al Islamiyah, Darul Fikr, Beirut
Umar Sulaeman al Asyqary
1983 Arrusul Warisalat, Maktabah Al Falah, Beirut
Dr Ir Muhammad Syahrur,
tt. Al Kitab Wa Al Quran Qiro’ah Mua’shiroh
Muhammad Izzududdin Taufik
2006 Dalil Anfus Al Qur an dan Embriologi, Tiga Serangkaih Solo
Harun Nasution
1986 Akal dan Wahyu Dalam Islam,: UI Press Jakarta
Taufik Pasiak,
2004 Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al Quran: Penerbit PT.Mizan Pustaka, , Bandung
AW Munawir
2002 Kamus Al Munawir Pustaka Progresif, Surabaya
AS Hornby
1999 Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, Oxford Press

DESKRIPSI AYAT AL QURAN BERKAITAN DENGAN AKAL MANUSIA
(TAFSIR TARBAWY)
Makalah ini disusun untuk diseminarkan pada mata kuliah Tafsir Tarbawy
Disusun Oleh :

Deni Nursamsi
NIM. 0861465
IPI- A

PROGRAM PASCASARJANA
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2009

3 Responses to DESKRIPSI AYAT AL QURAN BERKAITAN DENGAN AKAL MANUSIA

  1. Nurin Baroroh says:

    OKE banget

  2. sulaeman.ridwan@rocketmail.com says:

    salam buat yang sudah generasi muda yang persepsi pemikiran tentang akal pun dipaparkan di internet semoga ilmumu bermampaat buat umat islam yang mu,min dan muamilin sampai muhapidin dan mutaqin juga muhlisin ammmiiin yarobal alamin

  3. Amien. Terimakasih doa dan dukungannya.. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang disegerakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: